Search

13 May 2009

BIOTERORISME

Warga Jakarta heboh! Matahari belum menyengat, sederet awan terlihat memanjang menghiasi langit Jakarta, Senin 2 Maret 2009. Berbeda dengan awan disekitarnya, gumpalan awan aneh ini lebih mirip asap pesawat.

Sensitifitas warga memang meningkat, terutama pasca bencana alam gempa bumi di sejumlah wilayah Indonesia yang selalu didahului awan sejenis. “Gempa Yogya” dan “Gempa Aceh” pun kabarnya ditingkahi awan aneh memanjang.

Fenomena “awan gempa” itu telah dipercaya, menjadi pertanda akan munculnya gempa bumi. Ciri-ciri awan gempa diantaranya, mucul tiba-tiba, muncul dari suatu titik tertentu yang posisinya tetap dan bentuknya berbeda dengan awan hasil konsiderasi(cirrus, stratus dan cumulus).

Pihak Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) langsung menyatakan, bahwa awan tersebut adalah awan cirrus. Bentuk awan dipengaruhi angin dan kelembapan pada lapisannya.

Benarkah awan mirip asap pesawat jet itu awan biasa? Sesungguhnya, awan aneh tersebut akan membawa malapetaka di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Asap itu tidak lain adalah ethylene bromide dan debu micro fiber yang sengaja disebarkan pesawat asing demi operasi intelijen “control population”. Analisis ini di kemukakan pengamat intelijen Jerry D. Gray.

Kepada INTELIJEN, Jerry menyatakan, awan aneh itu merupakan jejak-jejak kimia (chemical trails/ chemtrails) yang berisi aerosol bermuatan virus maut. Chemtrails disemprotkan di atas langit Jakarta untuk “mempersiapkan” warga Jakarta dan sekitarnya “menerima” virus flu burung(H5N1) yang telah dimodifikasi.

Menurut Jerry, Chemstrail dihasilkan dari mesin pesawat jet yang terbang dengan ketinggian 33 ribu kaki dan terendah dalam ribu kaki. Berbeda dengan asap jet biasa(contrail), chemtrails akan menjangkau horizon ke horizon.

Sementara Contrail normal berwujud Kristal es lembut yang terbentuk oleh mesin pesawat pada ketinggian 31 ribu kaki atau lebih. Jika ketinggian di bawah 31 ribu kaki, jejak konsiderasi tidak akan terbentuk di belakang pesawat.

Chemstrails memiliki cirri-ciri khusus diantaranya, berbentuk asap putih kekuningan, tipis melebar, lurus kebelakang pesawat, membentuk garis panjang melintasi awan dan tidak cepat hilang.

Sebagaimana layaknya operasi intelijen, chemstrails biasanya disemprotkan oleh pesawat sipil asing tanpa diketahui para penumpangnya. Bahkan mekanik avionics, engine, flight, contrals dan hidrolik pesawat sipil tidak menyadari bahwa di dalam pesawat yang mereka periksa telah dipasangi perangkat penyebar chemstrails.

Tangki penyimpan chemistrails diletakkan dalam sistem pembuangan kotoran dari toilet pesawat. Tangki tersebut tersambung dengan pipa-pipa yang berakhir ujung trailing sayap pesawat. Dari sanalah racun mematikan itu ditebar.

Sinyalemen yang dilontarkan Jerry D. Gray ternyata tidak sebatas analisis. Mantan teknisi pesawat pribadi Raja Fahd itu melakukan sejumlah investigasi. Bahkan Jerry berhasil mengabadikan sejumlah chemistrails di langit Jakarta.

“Chemistrails mulai muncul intens di langit Jakarta dan sekitarnya sejak awal 2007. Terakhir muncul seminggu yang lalu,” ungkap mantan anggota Angkatan Udara AS ini.


TEROR UDARA

Efektifitas penyebaran virus dari pesawat udara tidak diragukan lagi. Secara teoritis, pesawat udara yang melepaskan 50kg antraks di atas daerah urban dengan populasi lima juta akan mengenai 250 ribu orang. Seratus ribu diantaranya akan meninggal tanpa sempat diobati.

Laporan anggota kongres Amerika bidang Pengkajian Teknologi tahun 1993, memperkirakan bahwa antara 130 ribu dari tiga juta kematian bias diakibatkan oleh pelepasan 100kg spora antraks di atas Kota Washington, DC, sama parahnya dengan dampak sebuah bom hydrogen.

Ironisnya, berdasarkan teori, chemistrails tidak benar-benar menguap, tetapi akan menyebar ke langit dan bergabung dengan chemistrails lain sehingga akhirnya menutupi langit. Jika daya tahan masyarakat melemah, virus akan lebih cepat disebarkan, salah satunya virus H5N1. Bahaya besar mengancam Jakarta dan sekitarnya?

Faktanya, ahli biologi molekuler Universitas Airlangga, Chairul Anwar Nidom, sempat membuat analisis bahwa Jakarta dan Tangerang merupakan episentrum wabah flu burung. Hipotesa itu didasari pada hasil simulasi berbagai model yang dibuat melalui perhitungan bio-informatika.


MEDICAL INTELLIGENCE

Wilayah Jakarta dan sekitarnya akan menjadi laboratorium raksasa percobaan bioterorisme dan senjata biologi? Lihat saja, di Indonesia sendiri bercokol laboratorium asing dan laboratorium biologi yang mudah diakses agen intelijen asing.

Misalnya, saat ini tercatat 1.800 laboratorium antraxs. Belum lagi keberadaan laboratorium milik angkatan Laut Amerika, Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU2). Laboratorium-laboratorium ini bias saja membiakan mikro organism agen biologi untuk senjata biologi.

Jerry D. Gray mengungkapkan, bahwa di NAMRU 2 terdapat sebuah container yang berisi lebih dari satu juta nyamuk hidup yang telah terinfeksi malaria. Informasi tersebut didapat Jerry dari pengakuan Nancy Witham, salah satu peneliti di laboratorium NAMRU 2. Jika dilepaskan, nyamuk maut itu mampu menginfeksi sepuluh juta manusia dalam waktu singkat.

Sejak awal, keberadaan NAMRU 2 di Indonesia memang untuk melakukan medical intelligence. NAMRU 2 melakukan pengembangan penyakit-penyakit tropis untuk kepentingan kesehatan keamanan anggota angkatan laut dan marinir AS.

Program NAMRU 2 adalah percobaan vaksin malaria, demam berdarah dan Heptitis E termasuk juga mengembangkan breeding colony nyamuk malaria dan demam berdarah. NAMRU2 juga mendirikan laboratorium lapangan di Jayapura yang memfokuskan pengembangan nyamuk malaria.

Jika memang NAMRU 2 ditujukan untuk membasmi peredaran virus-virus mematikan, mengapa malaria dan demam berdarah justru semakin menjadi teror yang menakutkan di Indonesia?

Kepada Intelijen, anggota presidium Mer-C, Jose Rizal Jurnalis, menyesalkan ketidakberdayaan Indonesia mengusir NAMRU 2 dari Indonesia. “Ini mental rendah diri penguasa. Padahal terkait keberadaan NAMRU 2 tergantung kepada keinginan baik pemerintah.” Tegasnya.

Menurut Jose Rizal, penyakit-penyakit berbahaya yang di klaim. Diteliti NAMRU 2 tidak berhubungan langsung dengan AS. “NAMRU 2 mempunyai kekebalan diplomatic. Ini perlu dicurigai, kemana larinya sampel-sampel itu” kata Jose.

Jose member catatan, Indonesia lemah dalam menganalisis ancaman karena kajiannya masih pada “ekstrim kiri-eksitrum kanan”.”Kajian di Lemhanas pun masih ekstrim kanan-kiri. Padahal, 1998, Indonesia hapir kolaps bukan disebabkan ekstrim kiri-kanan, tetapi serangan spekulan ekonomi yahudi,” tegas Jose.


Di kutip dari Majalah Intelijen(hal. 10) dan ib-raspati.co.cc

Seja o primeiro a comentar

Post a Comment

Tentang Penulis

My photo
Tangerang, Banten, Indonesia
Luchu bgt ngga cih..

Komentar


ShoutMix chat widget

Tomy Kurniawan © 2008